PENDIDIKAN ISLAM
Ma’danil Iman
Guru Madrasah Aliyah (MA) Pembangunan, Mandirancan-Kuningan-Jawa Barat
Abstrak
Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui dan mampu mengamalkan konsep pendidikan Islam dalam lingkungan pendidikan formal maupun informal. Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem pendidikan untuk membentuk kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam dalam berpikir, berucap, dan bertindak,[1] dengan kata lain pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang mencakup semua aspek guna mencapai perubahan dalam hidup yang dibutuhkan oleh seorang manusia sebagai hamba Allah Swt.
Kata Kunci : Pendidikan, Islam
A. Pengertian Pendidikan
Memahami hakikat pendidikan, mengacu kepada pengertian pendidikan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab 2 Pasal 1 menjelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2] Pendidikan merupakan upaya untuk memanusiakan manusia. Proses produksi manusia tidak hanya secara kuantitatif tetapi juga harus secara kualitatif. Dalam perkembangan secara kualitatif itulah dibutuhkan “perkembangan manusia menjadi lebih manusiawi”, dalam konteks inilah dibutuhkan pula upaya humanisasi, yaitu proses “memanusiakan manusia”. Salah satu upaya untuk memanusiakan manusia itu adalah melalui proses pendidikan.
Pada hakikatnya pendidikan itu untuk manusia dan dapat diperoleh selama manusia lahir hingga dewasa. Pendidikan mempunyai tugas untuk menghasilkan generasi yang baik, manusia–manusia yang lebih berbudaya, manusia sebagai individu yang memiliki kepribadian yang lebih baik. Tujuan pendidikan di suatu negara akan berbeda dengan tujuan pendidikan di negara lainnya, sesuai dengan dasar negara, falsafah hidup bangsa, dan ideologi negara tersebut.
Indonesia memiliki istilah Pendidikan Nasional, adapun yang dimaksud dengan pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang–Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai–nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sedangkan tujuan dari pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum di dalam UU No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian maka manusia akan menduduki kedudukan sebagai manusia yang seutuhnya yakni sebagai makhluk yang mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan untuk alam semesta.
Istilah kemanusiaan secara leksikal bermakna sifat-sifat manusia, berperilaku selayaknya perilaku normal manusia, atau bertindak dalam logika berpikir sebagai manusia. Pemanusiaan secara leksikal bermakna proses menjadikan manusia agar memiliki rasa kemanusiaan, menjadi manusia dewasa, manusia dalam makna seutuhnya.[3] Artinya, dia menjadi riil manusia yang mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara penuh sebagai manusia.
Jika dipadukan dengan hasil kajian filosofi lainnya, diketahui pula bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial; dalam artian bahwa dalam kehidupannya manusia selalu berinteraksi dengan manusia lainnya.[4] Mengingat hal itulah, upaya humanisasi manusia melalui proses pendidikan melibatkan banyak manusia lainnya. Orang yang berperan besar di rumah ialah orangtua, di sekolah yang berperan besar adalah para guru, di lingkungan masyarakat yang berperan dalam pendidikan adalah teman pergaulan. Selain itu faktor individu tentu juga berperan menentukan hasil dari upaya pendidikan tersebut. Hakikat pendidikan itu sendiri lebih berorientasi kepada terbentuknya karakter (kepribadian/jatidiri) seseorang.[5]
B. Sistem Pendidikan Islam
Kata pendidikan diambil dalam kosa kata Bahasa Arab yaitu “Tarbiyyah” berasal dari suku kata “Rabba-Yurobbi” memiliki arti memelihara dan mendidik, sedangkan kata pengajaran dalam bahasa Arab yaitu “Ta’lim” berasal dari suku kata”allama-yuallimu” memiliki arti mengajar. Kedua kata tersebut dalam bahasa Arab menjadi “Tarbiyyah wa Ta’lim” yang artinya pendidikan dan pengajaran.
Pendidikan jauh lebih luas maknanya dari pada pengajaran. Pengajaran hanya sebatas menyampaiakan pengetahuan (transfer knowledge), sedangkan pendidikan adalah menyampaikan nilai (transfer value) maka sesuatu yang bernilai harus disampaikan dengan teori dan keteladanan. Pendidikan Islam dalam bahasa Arab yaitu “Tarbiyyah Islamiyah” pendidikan yang bernilai dan bernafaskan islam.
Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem pendidikan untuk membentuk kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam dalam berpikir, berucap, dan bertindak,[6] dengan kata lain pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang mencakup semua aspek guna mencapai perubahan dalam hidup yang dibutuhkan oleh seorang manusia sebagai sebagai hamba Allah Swt.
Dalam perkembangan selanjutnya istilah pendidikan dan Islam, kedua kata ini akan menemukan perbedaan makna dan tujuan, di antaranya istilah pendidikan Islam dan Pendidikan Agama Islam (PAI), secara subtansial keduanya memiliki perbedaan. Usaha-usaha yang diajarkan secara personal agama itulah makna pendidikan agama Islam, sedangkan pendidikan Islam adalah nama sebuah sistem pendidikan yang Islami. Pendidikan agama Islam yang dimaksud adalah usaha asuhan dan bimbingan terhadap peserta didik dengan tujuan setelah selesai pendidikannya mampu mengamalkan ajaran Islam dan menjadikan ilmu tersebut sebagai pandangan hidup[7] di masa yang akan datang.
Para ilmuan muslim mengembangkan teori sistem pada abad ke-8 sampai dengan abad ke-13 M. pada saat itu merupakan masa keemasan sejarah kebudayaan Islam, pada prinsipnya kreativitas ilmuan muslim tersebut bersumber dari al-Qur’an yang telah memberikan petunjuk tentang sistem pendidikan yang sesungguhnya lalu diperjelas dari sunnah sebagai penjabaran al-Qur’an dalam menafsirkan setiap ayatnya. Allah telah memberikan suatu sistem dalam diri manusia yaitu adanya jasmaniah dan rohaniyah sebagai satu kesatuan yang utuh. Sesuatu yang bersifat sistematik dan mekanistik adalah merupakan sunatullah.
Sistem pendidikan Islam merupakan sebuah aturan yang berlaku dalam menjalankan roda pendidikan yang ingin dicapai sesuai dengan nuansa yang islami. Maka terbentuklah karakteristik pendidikan Islam diantaranya;
Pertama, pendidikan Islam lebih menekankan pada pencarian ilmu pengetahuan, penguasaan dan pengembangan. Sebuah proses yang berkesinambungan untuk mengembangkan ilmu sepanjang hayat (long life education) dalam sistem pendidikan modern. Proses pengembangan ilmu tersebut sangat menekankan terhadap nilai-nilai akhlak seperti kejujuran, sikap tawadhu, optimis, berani mencoba dan lain sebagainya merupakan prinsip- prinsip penting yang harus menjadi pegangan para pencari ilmu.
Kedua, potensi dan kemampuan seseorang untuk berkembang dalam kepribadiannya, setiap pencari ilmu akan dipandang sebagai makhluk Allah Swt yang perlu dihormati dan disantuni. Kepribadian merupakan objek pendidikan agar selalu berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Ketiga, pengamalan ilmu pengetahuan atas dasar tanggung jawab kepada Tuhan dan masyarakat. Dari sinilah ilmu pengetahuan bukan sekedar untuk diketahui dan dikembangkan melainkan harus mampu diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka terjadilah konsistensi antara apa yang diketahui dengan apa yang diamalkan, dalam Islam mengetahui suatu ilmu pengetahuan sama pentingnya dengan pengamalannya secara konkret untuk kemashlahatan.
Pemaparan di atas perihal pengertian mengenai sistem, pendidikan Islam, dan karakteristiknya secara terperinci, maka dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan Islam adalah sebuah komponen yang memiliki ikatan satu sama lain dan saling berinteraksi untuk mencapai apa yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam.
C. Landasan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia yang lebih baik harus mempunyai landasan sebagai pegangan dalam menjalankan sistemnya, maka landasan itu harus berpihak dan memiliki indikasi perubahan bagi setiap pelakunya. Landasan itu adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Yang telah dikembangkan oleh para mujtahid dalam merincikan landasan tersebut tentunya harus sesuai petunjuk bukan sesuai dengan nafsu, di bawah ini landasan Pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
- Al-Qur’an
Adalah firman Allah Swt. sebagai mu’jizat yang besar diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. untuk memberikan petunjuk dalam menjalankan kehidupan manusia. Al-Qur’an merupakan sumber petunjuk yang mampu menjawab semua permasalahan di dunia ini, termasuk peningkatan pendidikan telah dibahas oleh al-Qur’an.
Pedoman pendidikan Islam itu bersumber dari al-Qur’an yang telah dijelaskan dan dikembangkan oleh para mujtahid sehingga berkembang menjadi ilmu pengetahuan.[8] Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem yang terikat oleh pedoman hidup umat Islam yang pertama yaitu al-Qur’an.
- As-Sunnah
Adalah perkataan, perbuatan atau pengakuan Rasulullah Saw. sunah merupakan sumber pedoman umat Islam kedua setelah al-Qur’an, sunnah berisi petunjuk/pedoman untuk manusia dalam menjalankan kehidupannya agar menjadi manusia yang bertaqwa.[9] Pendidikan Islam banayak mengadopsi keterangan-keterangan dari sunah sebagai acuan kedua setelah al-Qur’an.
Hadis atau sunnah merupakan metode yang pernah dicontohkan Nabi dalam perjalanan kehidupannya melaksanakan dakwah Islam. Contoh yang diberikan beliau dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu hadis qauliyah, fi’liyah, dan taqririyah. Hadis ini merupakan sumber dan acuan yang dapat digunakan umat Islam dalam seluruh aktifitas kehidupannya. Hal ini disebabkan, meskipun secara umum bagian terbesar dari syari’at Islam telah terkandung dalam Al-Qur’an, muatan hukum tersebut belum mengatur berbagai dimensi aktivitas kehidupan umat secara terperinci dan analis.
Untuk memperkuat kedudukan hadis sebagai sumber atau dasar inspirasi pendidikan dan ilmu pengetahuan, dapat dilihat dari firman Allah SWT. yang artinya:
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (Qs. An-Nisa Ayat 80)
- Ijtihad
Adalah sebuah usaha para ulama atau fuqoha dalam menafsirkan al-Qur’an da memaparkan isi kandungan Hadits. Ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada al-Qur’an dan Sunah. Namun demikian, ijtihad harus mengikuti kaidah-kaidah yang diatur oleh para mujtahid tidak boleh bertentangan dengan AlQur’an dan As-sunah tersebut. Karena itu ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam yang sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah rosul Allah wafat. Sasaran ijtihad ialah segala sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan, yang senantiasa berkembang. Ijtihad bidang pendidikan sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, terasa semakin urgent dan mendesak, tidak saja dibidang materi (isi) melainkan juga dibidang sistem dalam arti yang luas.[10] Ijtihad yang dilaksanakan adalah ijma dan qiyas didasari oleh al-Qur’an dan Hadits/sunnah.
Meletakkan ijtihad sebagai sumber pendidikan Islam pada dasarnya merupakan proses penggalian dan penerapan hukum syari’ah yang dilakukan oleh para mujtahid muslim dengan menggunakan pendekatan nalar dan pendekatan-pendekatan lainnya. Secara independen, guna memberikan jawaban hukum atas berbagai persoalan umat yang ketentuan hukumnya secara syari’ah tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis rosulullah. Oleh karena itu, lahan kajian analisis ijtihad merupakan lahan kajian yang cukup luas. Keluasan tersebut meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang begitu bervariasi dan dinamis.[11]
D. Tujuan Pendidikan Islam
Ada beberapa pendapat dari para ahli terkait tentang tujuan pendidikan Islam, mereka memiliki pandangan yang berbeda walaupun memiliki maksud yang sama hanya perbedaan dalam redaksi dan istilah saja. Berikut ini beberapa pendapat para ahli tentang tujuan pendidikan yaitu;
Pertama, Yaquib al-Attas menjelaskan tentang tujuan pendidikan yang harus diambil dari pandangan hidup (philosophy of life) bahwa Islam menganjurkan kepada kaum muslimin untuk menjadi Insan kamil atau manusia sempurna.[12] Pandangan ini masih bermakna secara gelobal bukan secara spesifik. Maka pendidikan Islam akan memeberikan pengaruh besar untuk membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki mental yang kuat dan selalu ingin berubah menjadi lebih baik.
Kedua, Muhammad Athiyah al-Abrasyi menjelaskan tujuan pendidikan Islam secara rinci untuk membentuk akhlak mulia, adab yang santun, persiapan mencari rezeki, menumbuhkan semangat ilmiah, juga sebagai jalan kebaikan menuju kehidupan yang abadi yaitu akhirat.
Ketiga, Abd.Ar-Rahman menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam mencakup tujuan jasmani, rohani, dan tujuan mental. Maka ketika seseorang menempuh pendidikan Islam sesungguhnya ia sedang menempuh kehidupan yang sempurna.
Penjelasan tujuan pendidikan Islam menurut para ahli di atas, semuanya menuju pada titik kesempurnaan yang salah satu indikatornya adalah nilai tambah secara kuantitatif dan kualitatif.[13] Tujuan pendidikan Islam memberikan keseimbangan hidup, karena pada dasarnya manusia hidup di dunia ini dituntut keseimbangannya dalam berpikir atau bertindak, pendidikan Islam memeberikan solusi keseimbangan tersebut.
Pendidikan memiliki peran dan fungsi ganda yaitu sebagai instrument penyiapan generasi bangsa yang berkualitas dan instrument transfer nilai. Pokok dari peran ganda ini adalah membekali seseorang atau kelompok dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang bernilai.[14] Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU Tahun 2003 Pasal 3) membantuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat merupakan salah satu esensi utama dari ajaran agama dan pendidikan agama sebagai salah satu instrument strategi yang tepat.[15]
E. Metode Pendidikan Islam
Metode adalah langkah strategis untuk melakukan sesuatu, maka dalam bahasa Arab disebut dengan Thoriqoh atau cara. Apabila membahas pendidikan maka harus diwujudkan dalam sebuah proses pendidikan, dalam rangka kepribadian agar peserta didik menerima materi ajar dengan mudah, efektif dan dapat diterima.[16] metode pendidikan Islam harus didasarkan dan disesuaikan dengan hal-hal berikut:
- Metode pendidikan Islam didasarkan pandangan bahwa manusia dilahirkan dengan potensi bawaan tertentu dan dengan itu ia mampu berkembang
- Metode pendidikan Islam didasarkan pada karakteristik masyarakat madani yaitu masyarakat yang bebas dari ketakutan, babas berekspresi dan bebas menentukan arah kehidupannya.
- Metode pendidikan Islam didasarkan pada learning competency, yakni peserta didik akan memiliki seperangkat pengetahuan, keterampilan, sikap, wawasan, dan penerapannya sesuai dengan kriteria atau tujuan pembelajaran.
Metode pendidikan Islam dalam penerapannya banyak menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri, sehinga dalam mengunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan Islam itu hanyalah merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehinga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut dalam hal ini tidak bisa terlepas dari dasar agamis, biologis, psikologis dan sosiologis.[17]
Berikut ini merupakan metode-metode dalam mencapai pendidikan Islam yang sesunguhnya, yaitu:
- Metode Ceramah
Metode ceramah ialah penerapan atau penuturan secara lian oleh pendidik terhadap kelas, dengan kata lain dapat pula dimaksudkan, metode ceramah adalah suatu cara penyajian atau informasi penerapan dan penuturan secara lisan oleh pendidik terhadap peserta didiknya. Metode ini banyak sekali dipaki karena metode ini mudah dilaksanakan. Nabi Muhammad saw dalam memberikan pelajaran terhadap umatnya banyak mempergunakan metode ceramah, disamping metode lain. Begitu pula di dalam Al-Qur’an itu sendiri banyak terdapat dasar-dasar metode ceramah.20 18 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010
- Metode Moral Reasoning
Metode Moral Reasoning Metode ini dapat disebut juga dengan metode mencari moral. Metode ini merupakan metode pembelajaran anak didik yang mengajak untuk menentukan suatu perbuatan yang sebaiknya diperbuat pada suatu kondisi tertentu dengan memberikan alasan-alasan yang melatar belakanginya. Metode ini juga melatih agar anak didik dapat mendiskusikan suatu perbuatan untuk menilai baik buruknya suatu perbuatan. Metode moral reasoning dilaksanakan dengan memberikan suatu kasus atau dilema moral pada anak didik melalui diskusi studi kasus, menonton film, dan sebagainya untuk selanjutnya anak didik menyelesaikannya secara individu ataupun secara kelompok.[18]
- Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar seorang pendidik mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta didik tentang bahan pelajaran yang telah di ajarkan atau bacakan yang telah mereka baca sambil memperhatikan proses berfikir diantara peserta didik. Pendidik mengharapkan dari peserta didik jawaban yang tepat dan berdasarkan fakta. Dalam tanya jawab, pertanyaan adakalanya dari peserta didik (dalam hal ini atau peserta didik yang jawab). Apabila peserta didik tidak menjawabnya barulah pendidik memberikan jawaban.
Referensi
[1] Muhammad Fathurrohman, Sulistyorini, Meretas Pendidikan Berkualitas dalam Pendidikan Islam (Yogyakarta: Teras, 2012) 8-9
[2] Depdiknas RI 2008 Sistem Pendidikan Nasional Jakarta: Nuansa Aulia. h.3
[3] Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.h.123
[4]Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. h.151
[5] Roziqin, Muhammad Zainur. 2007. Moral Pendidikan di Era Global: Pergeseran Pola Interaksi Guru Murid di Era Global. Malang: Averroes Press.h. 98
[6] Muhammad Fathurrohman, Sulistyorini, Meretas Pendidikan Berkualitas dalam Pendidikan Islam (Yogyakarta: Teras, 2012) 8-9
[7] Zakiah Derajat, dkk, Pendidikan Islam Keluarga dan Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995) 86
[8] Zakiah Derajat, dkk, Pendidikan Islam Keluarga dan Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995) h. 19
[9] Ibid, h. 20-21
[10] Zakiah Derajat, dkk, Pendidikan Islam Keluarga dan Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), h.21
[11] Meita Sandra (ed) Gusdur dan Pendidikan Islam Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era Global, (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2001), h. 62
[12] Nauib al-Attas, Aims and Onjektives of Islamic Education (Jeddah: King Abdul Aziz Univercity, 1979) h.1
[13] Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, At-Tarbiyah Al-Islamiyah Wa Falasifatuha, (Kairo: Isa Al-Bab Al-Halabi 1975), h.22-25
[14] Ro’is Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Erlanga, 2011) h. 147-148
[15] Marwan Saridjo (ed), Mereka Bicara Pendidikan Islam Sebagai Budaya Rampai, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2009) h.25
[16] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010) 2-3
[17] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010) h.185
[18] Ahmad Munjih dan lilik Nurholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2013) 63
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Penilaian Akhir Tahun (PAT) Genap 2022/2023
Kuningan, mipembangunan.sch.id Mulai hari Senin, 29 Mei 2023 s.d. Rabu, 7 Juni 2023 MI Pembangunan Mandirancan Kuningan melaksanakan Penilaian Akhir Tahun (PAT). Kegiatan PAT Madrasah
Penilaian Akhir Semester (PAS) Ganjil 2022/2023
Kuningan, mipembangunan.sch.id Hari ini Senin, 5 Desember 2022 MI Pembangunan Mandirancan Kuningan melaksanakan Penilaian Akhir Semester (PAS) Ganjil tahun pelajaran 2022/2023. Penilai
ELEKTROMAGNETIK
Kuningan, mipembangunan.sch.id Tanggal 14 November 2022 kelas VI (Enam) MI Pembangunan telah melakukan percobaan pembuatan magnet. Dalam Pembelajaran IPA sudah tidak asing lagi dengan
BONEKA TANGAN
Kuningan, mipembangunan.sch.id Puji syukur pada Allah SWT, sampai dengan usiaku yang sudah senja alhamdulillah masih bisa menikmati manisnya dunia. Selaku guru bidang studi bahasa, sel
BOLA SUSU
Kuningan, mipembangunan.sch.id Anak kecil tidak terlepas ketertarikan salah satunya pada sebuah permen, rasa manis yang khas dan dikemas sedemikian menarik sehingga permen banyak perub
TELUR AYAM RASA ASIN
Kuningan, mipembangunan.sch.id Bagaimana jadinya jika telur ayam memiliki rasa asin, bukan diolah dengan cara masakan, namun disini diolah seperti pengolahan pengasinan telur bebek. Te
